Archive for Juni 2018
Ijikan aku
memanggilmu Jasmine
|
|
Pengantar
Redaksi
Karya ini saya dedikasikan untuk seseorang yang
telah membius jiwa ini, meniupkan kembali gairah aroma kehidupan, memberikan
semangat dan asa baru dalam mengarungi kerasnya bahtera gelombang kehidupan.
Sesosok wanita anggun penuh dedikasi
Eis Akmeliny Fitriana
Karya ini bukanlah sebuah mahakarya seorang
pujangga, hanya goresan tinta tentang celoteh jiwa, yang terangkum dari
beberapa detik, menit dan jam waktu sejak beberapa bulan terakhir. Karya ini
saya beri judul “ Ijinkan
aku memanggilmu Jasmine “,
yang terinspirasi dari kesucian dan keindahan melati, mengacu pada kecerian,
kesucian hati dan keputihan jiwa, yang saya kagumi. Semoga karya ini tidak saja
menjadi goresan tinta hampa tanpa makna, tetapi dapat menjadi penyemangat baru
bagi pembacanya.
Saya percaya bahwa setelah kehidupan pasti akan ada
kehidupan baru.
Jakarta, mei 2017
Pandangan Pertama
Sunyi, senyap, gelap, hitam pekat yg
tlah bersinggasana
Terkoyak sesaat dari jiwa
Berdentang keras bak lonceng
membelah sunyi
Bergemericik bak pancuran air
mencabik senyap
Bagai kilatan petir yg membelah
gelap
Menggoreskan warna dalam kanvas
hitam pekat
Tatkala dua bola pancaindra ini
terbentur alaunan mendayu dari jiwa syahdu
Menari riang membakar sanubari
Itulah syair yang memisahkan rasa
dengan jiwa
Itulah bara yg membakar kalbu dalam
aroma kehidupan
Itulah dawai magis yg di hembuskan
hati membelah angkasa menebar benih benih asa
Alunan nada dari petikan busur panah
Eros
Membakar dari ubun ubun hingga
meluluh lantakan jiwa
Meneteskan sejuk bagai embun
Himalaya
Meniupkan sepoi angin Mahameru
Jiwa raga ini seakan bangkit dari
mati suri dan memekikkan gelora tuk hidup 1000 tahun lagi
Takjub
Bidadari malam menyapa jagat raya
Membius jutaan nyawa menuju nirwana
sesaat
Menggandeng sang rembulan berdendang
menuju peraduan
Jiwa ini melayang membelah batas
antar galaksi
Memecah berjuta meteor hingga
menembus batas sadar
Saat bibir mulai terkunci
Hanya helaan nafas menyibak sejukkan
kalbu
Menebarkan berjuta helai lembar
angan dan asa
dewa Eros yg bertahta
Akan kah ini terangkai menjadi
cerita
Membuihkan laut menjadikan legenda
Megoreskan tinta emas dalam syair
asmara
Menyebar benih cerita kehidupan dari
nafas para dewa
Dalam kanvas yang terbingkai nyata
Melahirkan sebuah mahakarya……………..
Entahlah…..
Ijinkan aku memanggilmu Jasmine
Ketika wajahmu menebarkan ceria
Bibirmu merekah menggapai tawa
Tajam tatapmu bagai embun himaya
Sejuk menampar jiwa bagai badai jaya
wijaya
Menghembuskan aroma cinta
Aku terpaku dalam bibir yg terkunci
Ketika ayunan langkahmu menginjak
congkaknya rasa
Menyibak butiran pasir keangkuhan
Dari jiwa yang seakan telah binasa
Menabur debu debu gelora
Dari sanubari yg telah lama mati
Hatimu putih
Jiwamu bersih
Aroma wangi senyum merekah
Membius nyawa, merangkai elegi
Bagai singgah di taman melati
Kau…
Sadarkah jiwa ini bergelora
Bagai kumbang yg menari di taman
sang putri
Yang hanya hinggap sekali dan enggan
pergi
Kau…….
Ijinkan aku memanggilmu Jasmine
Karena engkau mahkota di taman hati
Ijinkan aku memanggilmu Jasmine
Dalam Peraduan
Buritan malam merangkak ke angkasa
Tanpa iringan nyanyian juwita malam
Cahaya dewi malampun tampak malu tuk
menyapa
Hanya titik titik air mata langit
yang bergemericik
Di sela sela dahan dan dedaunan yang
kuyup layu
Mata ini enggan terpejam
Jiwa ini seakan enggan tuk bersyair
Hanya angan mencoba meraih asa
Dari sisa sisa bayangan gelak tawa
Oh Sang Penguasa Jagat Raya……
Mengapa kau hembuskan kembali nafas
cinta
Dalam jiwa yang hampir binasa ini….
Kau hadirkan kembali bayangan raut
wajahnya
Memecah hening, memeluk erat dalam
mimpi
Membawa berjuta buih buih tawa dan
asa
Seakan membawa hayal ke nirwana
Peraduan usang saksi bisu
Mimpi mimpi terangkai nyata di sini
Yang kembali buyar oleh kokok sang
fajar
Pengantar nyata gerbang kehidupan
yang bernama dunia
Seraya berharap esok kembali tuk
bertahta
Aku Pengagummu
Saat heningnya malam yang penuh
kebisuan
Hanya detak dari sang waktu jadi
nyanyian
Tak jeda kurajut rindu dalam jiwa
Hingga menembus ruang hampa
Saat riuhnya hingar kehidupan
Bersama pekik dan teriak cucu adam
Tak henti kurenda berjuta asa
Membelah sunyinya hati mengantar ke
muara bahagia
Senyummu adalah nyawa dalam nafas
hidupku
Langkahmu adalah dayung nahkoda
bahtera impianku
Lembut tutur katamu bagai sabda
pandita ratu
Melekat erat di benak malam malamku
Aku mengagumimu dalam tirani
kefakiranku
Biar jurang memisahkan jadi
penghalang
Biar seribu pedang terhunus tuk
menantang
Tetap kucumbui bayangmu di teras
sang rembulan
Meski terkadang dalam senyumku,
harus kubasuh luka merona dari rajam lakumu
Karena mengagumi bukanlah dosa
Aku tetaplah pujangga rahasia
pengagum mu
Yang merenda berjuta pengharapan
Di sangkar yang bernama takdir
kehidupan
Dalam bias malam sepiku
Cucuran keringat dalam munajat, tak
terbilang dalam hitungan angka dan aksara
Sampai bila air mataku kering,
sampai bila nafasku berhenti
Aku masih disini dalam sepiku
Merajut berjuta mimpi bersama indah
bayangmu
Aku Ingin
Saat air mata mengalir di parit
parit pipimu, menjelajahi bukit dan lembah,
berkelok bermuara di tepian hatimu
Aku ingin merangkai kata dalam
kidung senja
Menjadikan ayunan pelipur laramu
Saat butiran embun menetes di
kelopak mu, membiaskan kilauan sebening mutiara,
menebarkan pelangi di sudut ruang
hatimu
Aku ingin menggoreskan berjuta warna
Dari kuas menuju kanvas yang bernama
bahagia
Saat percik percik api terlontar
dari jiwamu, melahirkan bara dalam sudut benakmu,
panas memanggang jiwa jiwa tandus
dan layu
Aku ingin meniupkan salju Himalaya
Membekukan kata dari setiap makna, hingga
kau rasa sejuk bagai sari bunga
Saat langkah waktu terasa berat
bagimu, membius angan melantunkan kidung rindu
dan irama dawai syahdu tak dapat
menghangatkan sepi malam mu
Aku ingin mejadi selimut jiwamu
Yang membelai hangat dan nyaman di
setiap sendi tubuhmu
Hingga mengantar jiwamu menaiki
tangga nirwana indahnya mimpi
Aku ingin menjadi bias asa, aku
ingin menjadi kilau cahaya
Dalam helaan nafas dan kidung hatimu
Hanyalah kata bahagia yang dapat kau
renda
Merindumu
Detak putaran waktu melambat di sini
Saat ku renda malamku dengan sepi
Mengarungi samudra lamunan yang tak
pernah bertepi
Meniupkan berjuta debu debu
kerinduan
Mengusik damai, mengukir gelisah
dalam jiwa
Laba – laba masih menari menyulam
sarangnya
Di sudut sudut kamar peraduan usang
Tatapannya congkak seakan menaruh
iba
Di sela sela geliatnya ia terus
berbisik
“ jangan pernah ceritakan tentang
duka lara, aku bosan mendengar “
Aku terhenyak untuk sesaat, ku
tengadah bermunajat pada sang penguasa jagat raya
Agar selalu terbersit indahnya
melati di hatimu,
Agar tatapmu tetap teduh bagai malam
purnama,
Agar senyummu tetap hangat laksana
mentari pagi
Detak putaran waktu masih melambat
di sini
Saat ku renda malamku dengan sepi
Ditemani laba laba yang tak henti
menari
Tak lelah ku tenggak bejana berisi
bayang mu dalam setiap helaan nafas
Tak jemu kutelan sejuta asa dan
mimpi yang tak bertepi
Karena dalam setiap tafakur hanya
bahagiamu yang ku puji
Sampai suatu saat ku tahu
Merindumu adalah dosa, dan
mengagumimu adalah terharam bagiku
Detak putaran waktu terus melambat
di sini
Saat ku renda malamku dengan sepi
Ditemani laba laba yang tak henti
menari
Bersama syair syair yang menyayat
hati
Tetap ku genggam walau pedih perih